Pages

Kamis, 17 Januari 2013

Sannin Party 7 :: School Life

Ohayoo~

Guys, Sanninkai (Smansa Nippon Kai) bakal ngadain event Sannin Party yang ke-7 looo~

Oke, perkenalan sedikit tentang Sanninkai..
Sannin itu apa sih?
Sannin itu semacam organisasi atau yang sering disebut ekskul pecinta Jepang di SMAN 1 Surakarta..
Trus, sannin party 7 itu apa?
Sannin Party 7 merupakan sebuah J-fest yang bertema 'school life' atau kehidupan sekolah. J-fest milik Sanninkai kali ini, akan memiliki buaaanyak perbedaan dengan SanninParty sebelumnya. J-fest ini akan diselenggarakan pada hari Minggu, 3 Ferbruari 2013 di Auditorium Unisri. Acara akan dimulai pada jam 09.00 dengan HTM(harga tiket masuk) presale Rp8.000,00 dan on the spot Rp10.000,00. Dimeriahkan oleh banyaknya kebudayaan Jepang yang ditampilkan dan lomba-lomba yang siap menghibur para pengunjung. Acara ini juga dimeriahkan oleh Giga of Spirit, Black Strowbery, VJR, dan Mirai.
So,

Join us!

SANNIN PARTY 7 at UNISRI (Universitas Slamet Riyadi) Jalan Sumpah Pemuda 18 Kadipiro, Banjarsari, Surakarta on 3th of February 2013, 09-00 till End.
Presale 8K, HTM 10K
Info :
twitter :: @SanninkaiSMANSA
facebook :: Sannin Party 7
blog :: http://sanninparty7.blogspot.com/
CP :: 085725571787

oh ya, sebelumnya akan diadakan Pra-Event Sannin Party 7 di Grand Mall Solo lantai 2 jam 18.30 till end tanggal 21 January 2012.. Dateng ya guys!!


Arigatou gozaimasu ^^

Whats Wrong With Us (Me/Him) ?

Helloooo... Long time no curhat~
Langsung aja deh, males juga kalo panjang lebar..

Jadi ceritanya gini..

Rencananya aku mau kumpul Sanninkai (oh ya, mau ada SP7 loo.. besok aku post deh!) ternyata temenku si Hesti nelfon, katanya suruh jemput dia di SMA * Surakarta, ya udah, aku kesana sama Alsha..
di jalan macetnyaaaaaaa.. bikin enek sendiri, sumpah ^^v
Nah, begitu nyampe SMA * tadi, si Hesti bilang..
"Eh, Zul.. Kayake tadi si **** kesini ii to.."
Ya udah, aku jawab "He? Kesini ngapain?"
"Gatau.."
Kira-kira seperti itulah.. Terus, semenit kemudiaaaan..
*Jeng  Jeng*
Beneran liat si **** di SMA *..
"Eh, Hes, Sha, nungguin si **** keluar juga yaaa... Jebaaaal.. *sambil pasang muka melas*" <-- Aku ngomong itu setengah sadar.
Si Hesti sama Alsha cuma ngangguk-angguk aja, ya udah nungguin.. Bentar sih.. Soalnya ditinggal ngobrol..
Begitu motor mau di gas.. *deg* si **** ada di depan pas..
#denganmukadatarakuhanyaberlaludidepannyatanpamengucapkatasepatahpunpadahalwajahnyasaatituterlihatberbinar
(Nah, itu tadi 'What's wrong with me.. Soalnya aku sendiri ngrasa aku gaje pas itu -_- #abaikan)
Emm, si **** tadi kayaknya mau nyebrang.. Tapi aku sama kawan-kawan masuk gang.. Eh, aku ngliatin ke belakang, tau-taunya si **** ngikutin..
Anehnya lagi, begitu di pertigaan aku sama temen-temen belok kiri, dia belok kanan..
Begitu aku belok kiri, ternyata jalannya maceeeet.. Akhirnya muter deh.. Eh, waktu muter malah berpapasan (lagi) sama dia, padahal jelas-jelas tadi dia ke arah kanan, sekarang malah balik puter ke arah kiri -_-
Sebenernya alesannya muter apaan sih? Macet juga? Kayaknya nggak deh, orang tadi aku lewat jalan pertamanya dia aja fine-fine aja..
(Itu dia, what's wrong with HIM)

Aaaa.. Whateverlah..

Sekian dan terimakasih.. :D

Kamis, 06 Desember 2012

Oppa & I Love Mission :: #Mission2 :: Love Letter


Guys, Ada Mission ke-2 dari Oppa & I Love Mission looo...
Keterangan lebih lanjut cek Penerbit Haru..

Okey langsung aja, sebenarnya #Mission2 ini cuma disuruh bikin Love Letter.. Tapi berhubung bingung plus nggak ada kerjaan (padahal lagi semesteran :D) Jadi, iseng aja bikin ceritanya..
Hehe, sorry kalo rada aneh :D
Langsung aja..



#Mission 2 :: Love Letter

Jae Kwon memutar tubuhnya seirama dengan dentuman nada yang mengalun lewat televisinya. Kali ini berbeda dengan sebelumnya. Bukan gadis-gadis cantik yang terpampang disana, melainkan sebuah boyband yang cukup ternama, EXO, yang tengah menari di dalamnya. Ia tak ingin dipandang rendah oleh Jae In lagi.
“Oppa, kau benar-benar memalukan. Tidak bisakah kau menari layaknya seorang pria? Oo, atau jangan-jangan Oppa seorang wanita? Haruskah aku memanggil Oppa, ‘Eonni’?”
Jae Kwon bergidik mengingat kalimat yang diutarakan Jae In beberapa hari yang lalu. Namun ia lega. Karena kini, Jae In telah memanggilnya ‘Oppa’ lagi. Ia akan tetap membuat Jae In memanggil dirinya Oppa, bukan Eonni bahkan Noona. Ia sedikit merinding dengan panggilan yang terakhir.
“Oppa..”
Jae Kwon kembali bergidik ketika merasa seperti seseorang sedang memanggilnya. Hentikan pikiran anehmu Jae Kwon. Hentikan. Hentikan.
“Oppa..”
Baik. Pasti ada seseorang yang benar-benar memanggilku. Dengan jantung yang masih berdebar, ia memberanikan diri untuk membalik badannya. “Omo!!” Ucapnya begitu melihat Jae In memasang wajah dinginnya di depan pintu kamarnya. Jae Kwon tertawa kecil sembari menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak terasa gatal. “Ada apa?”
Jae In mengaduk isi tas pinggangnya. Setelah beberapa saat, ia berhasil menemukan apa yang ia cari. “Ini. Ada yang mengirim surat untukmu.”
“Surat?” Jae Kwon turun dari tempat tidurnya lalu berjalan ke arah Jae In setelah ia mematikan televisi super lebarnya. “Dari siapa?”
Jae In menggeleng pelan. “Frederica? Kau kenal?” Tanyanya kemudian. “Sepertinya ia bukan orang Korea.” Lanjutnya lagi.
Jae Kwon memutar surat yang barusan ia dapat. Ia berusaha mengingat siapa itu Frederica. Sepertinya ia pernah mengenalnya. “O, kau baru pulang?” Jae Kwon melirik jam dindingnya. Jam tujuh tepat. “Darimana saja?”
“Ha Neul dan Sa Ra barusan mengajakku ke restoran ramyeon yang baru dibuka di dekat sekolah. Oppa, lain kali kau harus mencobanya! Ramyeonnya benar-benar nikmat!” ucap Jae In sambil berbalik, berjalan menjauh menuju istananya sendiri.
Park Jae Kwon masih memandangi amplop berwarna biru laut itu. Pikirannya melayang. Terbesit beberapa siluet peristiwa, tapi ia tak bisa melihatnya secara jelas.
“Oppa, kau tidak menari bersama SNSD lagi?” Ejek Jae In ketika ia berjalan menuruni tangga.
“Kau benar-benar...” Jae Kwon tersenyum simpul lalu meluncur bebas ke kasur empuknya. “Frederica?” Jae Kwon berkata pelan sebelum ia masuk dalam dunia mimpinya. Ia terlalu lelah hari ini. Sangat lelah.
“Jane, apa yang harus kita lakukan?” suara Johny bergetar. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
“Oppa, kau kenapa? Tenanglah. Kita tunggu apa kata dokter.” Seorang gadis yang seumuran dengannya menepuk punggungnya pelan. Sebenarnya ia juga takut, tapi ia tak ingin membuat saudaranya bertambah takut.
“Dimana Appa dan Eomma?” ucap Jhon lagi, lebih pelan. “Lalu dimana orang tua gadis itu?”Johny mulai menangis lagi. Ia mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.
Rintik-rintik hujan mulai membasahi bumi pertiwi. Johny dan Jane dengan segera mengayuh sepeda mereka dengan cepatnya. Mencoba menghindari jarum-jarum tajam yang mulai meluncur. Kedua anak itu melaju dengan kencangnya tanpa memperhatikan bunyi klakson dan teriakan dari warga yang ada di sekitar mereka. Keduanya terus mengayuh sebelum seluruh baju mereka basah oleh air.
“Minggiiir!!” Johny berteriak keras begitu mendekati seorang anak perempuan yang tengah berdiri di tengah hujan. Terlambat. Anak kecil tadi terdorong sepeda Johny hingga dahinya membentur aspal jalan. Darah segar mengalir deras dari dahi kanannya.
Tanpa butuh waktu lama, beberapa orang telah mengerumuni mereka bertiga dan membawa ketiganya ke rumah sakit.
“Appa, Eomma!” Jane melonjak dari kursi tunggu dan berlari menghampiri kedua orang tuanya. Sedangkan Jhon hanya menunduk di tempatnya. Ia tak tau harus berbuat apa. Gara-gara dia gadis itu kini harus mengalami penanganan khusus.
&
“Apakah kau sudah baikan?” Jhon berjalan mendekati gadis kecil yang tengah terduduk di taman. Sebenarnya umur mereka sama, namun keduanya masih merasa canggung.
Gadis tadi mengangguk. “Sekarang sudah tidak apa-apa. Tidak usah khawatir.”
“Syukurlah.” Johny tersenyum. “Aku Johny, Johny Park. Kau?”
Gadis itu menerima uluran tangan Johny. “Aku Frederica. Frederica Khanza.”
&
“Johny, aku.. Akan pindah ke Amerika.”
“Oppa.. Bangunlah! Ini sudah pagi!” Jae In berteriak dari balik pintu kamar Jae Kwon. Meskipun tak terdengar jelas, namun Jae Kwon berhasil terbangun dari tidurnya.
“Aku sudah bangun!” Jae Kwon balas berteriak. Namun tubuhnya masih tergeletak di kasurnya.
“Baiklah. Aku tunggu di ruang makan!”
Terdengar derap kaki yang mulai menjauh. Jae Kwon yakin Jae In sedang menuju ruang makan sekarang. Jae Kwon menghela nafas panjang. Ia hanya menerawang, tidak benar-benar melihat langit-langit kamarnya. “Rika, apa kabar?”
&
Jae Kwon berhenti melangkahkan kakinya di sebuah taman bermain di dekat rumahnya. Ia baru selesai mendubbling salah satu kartun di MBC sore ini. Untung saja hari ini sekolah libur, kalau tidak ia akan terlihat seperti mayat hidup yang kehabisan energi.
Ia menepakkan kakinya ke permukaan tanah. Membuat ayunan yang sedang ia duduki mengayun perlahan diantara hembusan angin. Sudah dua hari terakhir ini ia terus teringat dengan teman masa kecilnya itu. Jae Kwon kembali menghela nafas. Sejak sebuah surat itu datang..
Tunggu. Surat itu! Jae Kwon mengaduk isi tasnya bahkan menuangkan isinya pada tanah yang mulai tertutup salju. Ia menemukannya. Sebuah amplop berwarna biru laut yang tergeletak di samping kaki kanannya. Ia menatap nama yang tertulis di amplop itu. Frederica? Bukankah terdengar familiar? Frederica.. Frederica.. Rica.. Rika?
Dengan segera Jae Kwon membuka surat itu. Jae Kwon masih ingat tulisan tangan Rika. Ia membacanya sekilas. Jae Kwon lega karena ia masih bisa bahasa Indonesia, juga lega karena surat ini benar dari Rika.
Dear Jae Kwon..
'Kau meninggalkanku’. 
Itulah kalimat pertama yang terlintas dibenakku begitu Jane mengatakan kau sudah pindah ke Seoul. 
Aku terus berusaha membencimu kala itu, namun percuma. Aku tak pernah bisa membencimu. Karena pada akhirnya, kaulah yang harusnya membenciku. Karena aku meninggalkanmu. 
Ingatkah kau? Enam tahun lalu kau menabrakku dan terus-menerus menangis. Aku ingin tertawa saat itu, namun bibir ini terasa kelu. Atau mungkin saat aku mengatakan aku akan ke Amerika, aku ingin menangis, berteriak, bahkan aku membenci ayahku karena membuatku terpisah darimu. 
Pertemanan kecil itu, aku tersenyum sendiri mengingatnya. Aku sempat berpikir, apakah kau masih mengingat diriku? Meski aku tahu jawabannya.. Bahwa kau takkan pernah memikirkanmu.. Karena aku bukan apa-apa bagimu. 
Johny Park, maafkan aku karena bertindak naif dan egois. Maafkan aku karena telah berburuk sangka padamu. Dan maafkan aku, karena aku menyukaimu. 
Tidak apa-apa jika kau membenciku. Gadis bodoh seperti diriku memang pantas dibenci bukan? 
Namun aku ingin kau tau, bahwa aku disini selalu menyayangimu. Aku menyayangimu hingga aku tak bisa membencimu. Aku menyayangimu hingga aku merindukanmu. 
Aku menyayangimu hingga membuat aku menyukaimu. 
Johny Park.. bukan.. Park Jae Kwon..Terima kasih atas pertemanan singkat yang kau berikan.
Selamat tinggal.

Frederica
Jae Kwon terhenyak. Ia hanya terdiam membeku di tempatnya. Tangannya menggenggam erat kertas itu, membuatnya lusuh. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Namun hatinya terus berbicara. Hingga tanpa ia sadari, air matanya mulai menetes. Membasahi kertas putih bertuliskan tinta hitam itu.
“Aaaaaaaaaaaaa.................” suara itu keluar begitu saja dari mulut Jae Kwon. Sangat keras. Namun tetap saja ada yang mengganjal di hatinya.
Jae Kwon memutar amplop biru tadi. Salju pertama bahkan mulai turun bersamaan dengan aliran air matanya. Pasti ada disini. Dan benar. Ada alamat yang tercantum. Jae Kwon membaca alamat itu. Gangnam? Bukankah? Jae Kwon membaca ulang alamat itu. Benar. Rumah Sakit Gangnam.
&
Jae Kwon berlari kencang di tengah lorong berdinding putih gading. Ia mengabaikan para perawat dan pengunjung yang memperingatinya. Seperti deja vu.
“Minggir!” Jae Kwon berteriak ketika seorang gadis hendak melewati lorong itu. Beruntung gadis itu segera memundurkan kursi rodanya hingga Jae Kwon tak jadi menabrak gadis itu.
Jae Kwon terus berlari dan berlari. Satu lantai lagi dan dia akan sampai di ruangan Rika. Sebenarnya bisa saja Jae Kwon menaiki lift. Tapi fikirannya sedang tidak beres kali ini.
“Rika!” ucap Jae Kwon begitu memasuki sebuah ruangan di ujung lorong lantai tiga ini. Kosong.
“Ah, anda mencari Nona Frederica? Dia baru saja turun. Katanya mau mencari udara segar.” Ucap seorang perawat yang kebetulan hendak membersihkan ruangan Rika.
Jae Kwon mundur beberapa langkah lalu menundukkan badannya, “terima kasih.”
Ia kembali berlari melalui anak tangga yang tersusun rapi menuju taman kecil yang berada di tengah rumah sakit kecil itu. Benar. Seorang gadis tengah terdiam disana. Telinganya difokuskan pada nada-nada yang mengalun melalui headphonenya. Sedangkan matanya digunakan untuk memandangi puluhan butir saju yang terjun bebas disekitarnya.
Jae Kwon berjalan mendekati gadis itu. Rambut hitam itu.. Bukankah itu gadis yang hendak Jae Kwon tabrak tadi? “Rika..” Gumam Jae Kwon pelan. Ia terus berjalan hingga ia berada tepat di belakang gadis itu. “Frederica..” ucapnya lagi.
Gadis itu kembali mendongak. Seorang pria yang seumuran dengannya tengah tersenyum menatapnya. Senyum itu.. “Johny..”
“Hai! Apa kabar?” Jae Kwon berjalan hingga kini ia bisa berhadapan dengan Rika. Lagi, air matanya menetes. Mungkin hari ini ia akan beralih menjadi pria cengeng. Bukan pria yang terkenal akan tawanya seperti di sekolah.
Rika segera memeluk pria yang ada di depannya itu. Ia terisak pelan. Ia membiarkan lagu Memories milik Super Junior untuk terus mengalun di telinganya. Ia ingin terdiam seperti ini untuk lebih lama lagi. Tapi, ada sebuah desakan yang meminta keluar dari dalam tubuh Rika. Ia akan keluar lagi. Gumam Rika dalam hatinya. Namun ia membiarkannya, ia benar-benar merindukan Jae Kwon. “Selamat tinggal.. Park Jae Kwon.” Rika tersenyum tipis sebelum semuanya gelap.
Jae Kwon melepas pelukannya. Ia berubah panik. Beberapa tetes darah mulai keluar dari hidung dan sudut bibir Rika. Tanpa banyak bicara, ia segera membawa Rika kembali ke kamarnya.
&
Jae Kwon terdiam. Begitu pula dengan wanita paruh baya yang kini mendekati kepala lima yang ada di sebelahnya. Lima belas menit telah berlalu. Namun belum ada kepastian dari pihak dokter.
“Rika.. Apa yang terjadi dengannya?” Pertanyaan Jae Kwon memecah keheningan di lorong itu.
Wanita itu terlihat menahan tangisnya. Ia hanya menunduk dan bergumam pelan. Namun gumaman itu terdengar sangat jelas di telinga Jae Kwon.
“Hemofilia? Tidak mungkin. Hemofilia tidak menyerang wanita!”ucap Jae Kwon sedikit membentak. Ia merasa kacau. Enam tahun berlalu tapi ia tidak tau apa-apa tentang penyakit Rika? Menyedihkan. Bahkan ia pernah membuat penyakit itu kembali di tubuh Rika.
Wanita itu menghela nafas, meskipun isakan kecil masih terdengar. “Hemofilia bisa menyerang wanita. Namun hanya beberapa. Dan Rika bagian dari penderita itu.”
Mereka kembali terdiam. Jae Kwon menggosok-gosokkan kedua tangannya. Ia lupa memakai jaket saat berlari kesini. Mungkin tasnya juga tertinggal di taman. Tapi itu tidak penting sekarang, sekarang yang terpenting adalah keadaan Rika.
Tak butuh waktu lama, pria dengan jas putih yang melekat di tubuhnya. “Dia sudah sadar. Tapi kondisinya sangat lemah. Hemofilia yang dideritanya sudah sangat parah. Kemungkinan Rika masih tinggal hanya tinggal beberapa jam saja.” Dokter itu mencoba tersenyum, berusaha menyalurkan semangat pada ibunda Rika yang tengah tertunduk lesu sekarang.
Jae Kwon melihat dokter itu berlalu. Ia menatap nanar pada Tante Gisel. Ia tersenyum simpul, sebelum melangkahkan kakinya menuju sebuah kamar. Kamar dengan sesosok wanita yang sempat membuat dirinya terluka.
“Rika..”
Gadis yang sedang terbaring itu tersenyum. “Jho.. Jae Kwon..” Ia bergumam.
Jae Kwon perlahan duduk di sebuah bangku yang berada di samping ranjang itu. Tanpa perlu dikomando, tangannya telah menggenggam erat sesuatu yang terasa dingin bagi sebagian orang, namun menimbulkan getaran hangat bagi Jae Kwon. “Terima kasih..”
Gadis itu menggeleng, tanda tak setuju. Ia kembali tersenyum dan menggumam. Entahlah apa yang diucapkan Rika, karena pada saat itu juga deru nafasnya telah terhenti.
Jae Kwon menunduk tanpa melepas genggamannya, justru mempereratnya. Untuk terakhir kalinya, biarkan aku menggenggam erat tanganmu.
&
Jae In bertingkah seolah dirinya sebuah setrika panas yang sedang memperlicin pakaian-pakaian lusuh. Malam telah berlalu bahkan sebentar lagi pagi akan datang. Tapi Jae Kwon menghilang entah kemana. Ia telah menghubungi nomornya, namun gagal. Panggilan ditolak.
“Oppa, dimana kau?” Ia mendesah pelan setelah melihat jam dinding yang terus berdetak. Untuk kesekian kalinya.
Terdengar pintu terbuka. Diikuti hawa dingin yang datang sepersekian detik. Jae Kwon! Dengan secepat kilat ia berlari menuju pintu depan yang sebenarnya berhubungan langsung dengan tempatnya berdiri sekarang. “Darimana saja kau?”
Jae Kwon segera menghampiri Jae In dan memeluknya erat. Tangisnya untuk yang kesekian kalinya kembali pecah. Jae In hanya bisa menepuk pelan punggung kakaknya itu. “Ada apa dengamu?” tanya Jae In pelan.
“Hari ini.. Aku bertemu.. Cinta pertamaku..”
&
“Johny.. Ah, bukan.. Jae Kwon-a.. Terima kasih, karena kau mau menemuiku.. Terima kasih karena kau, aku bisa tersenyum di akhir hayatku..”
“Rika.. Kau jahat!! Kenapa kau seenaknya pergi begitu aku menemukanmu? Meskipun aku masih tidak bisa menerimanya.. Tapi aku lega, senang? Entahlah.. Karena kini aku tau.. Aku tak bertepuk sebelah tangan..”

Jumat, 09 November 2012

Coretan Tangan :: Truly...

Abis mbaca, tolong Komentar dan Like-nya yaaaa ^^ keke~
Happy Reading!!!


Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti Lomba Menulis yang diadakan Penerbit Haru. Info: penerbitharu.wordpress.com

#Seoul
Kalau kita takut melakukan kesalahan, selamanya kita akan berjalan di tempat.

Truly....


Dia tersenyum simpul ketika seorang pria yang berusia akhir empat puluh tahunan yang berdiri di depannya meminta dirinya untuk kembali menirukan kalimatnya. Untuk yang ketiga kalinya. Dan untuk yang ketiga kalinya lagi, dia hanya terdiam. Menatap kosong ke depan.
“Hye Woon-ah, kau baik-baik saja?” tanya Yoon Yong Shin, seorang pria dengan jas hitam rapi yang tertempel di tubuhnya.
Hye Woon mendesah pelan. Ia tidak berani menatap mata kedua orang tuanya yang tengah menatap dirinya cemas. Apalagi menatap Yong Shin yang berdiri tepat di sebelahnya. Ia hanya menatap seorang pria lain, pria yang kini juga menatapnya.
Yong Shin perlahan menggenggam erat jemari Hye Woon. Hye Woon kembali mendesah. Bahkan genggaman pria di sampingnya tak sehangat genggamannya. Begitu pula senyum dan tatapan dari kedua buah mata mereka. Sangat berbeda.
Senyum dan tatapan Yong Shin lembut, namun tetap tidak bisa mengalahkan senyum dan tatapan yang dimiliki Lee Hyeong Min. Mereka berbeda. Setidaknya beberapa kelebihan lebih dimiliki Hyeong Min.
Hye Woon menunduk pelan, mencoba menutupi bulir air matanya yang kini mulai menetes. “Maaf.”
Yong Shin menatap Hye Woon. “Untuk apa?” Tanyanya dengan senyum yang merekah di wajahnya. Ini mungkin hari terbaik untuknya. Tapi bukan untuk Hye Woon.
“Maaf. Tapi aku harus melakukannya.” Ucap Hye Woon lagi. Ia berlari meninggalkan altarnya, dengan dirinya yang masih berbalut gaun putih indah. Tangisnya pecah. Sungguh, kini ia butuh dirinya disampingnya.

**

Gadis itu hanya terdiam di sekitar Cheonggyecheon Waterway. Sudah puluhan pasang mata mengamatinya sedari tadi. Bagaimana tidak? Seorang gadis dengan make-up yang telah luntur dan gaun putih yang mengembang berdiam diri di atas jembatan di saat matahari mulai menenggelamkan dirinya.
“Hye Woon-ah..”
Gadis itu mengenali suara barusan. Dengan segera ia menghapus butiran kristal yang telah membanjiri pipinya. Ia menengok ke belakang dengan senyum kecil di bibirnya, senyum terbaik di saat kondisinya sedang seperti ini.
Pria yang tadi memanggilnya berjalan mendekatinya. Ia menyampirkan jas hitamnya ke punggung Hye Woon yang tak berbalut kain. Ia tersenyum kecil setelah menyentilkan telunjuknya di dahi gadis itu. “Kau benar-benar bodoh. Membuat malu saja.”
Hye Woon terkekeh pelan. Benar, setidaknya kehadiran Hyeong Min bisa membuatnya tenang. Sangat tenang. “Setidaknya aku berhasil menarik perhatian mereka.”
“Kau membuatku khawatir. Untung aku menemukanmu.” Ucap Hyeong Min. Ia menatap lurus ke depan, sikunya ia gunakan sebagai penyangga tubuh bagian atasnya. “Di tempat favorit kita.” Lanjutnya lagi.
“Aku tidak ingin menikah dengannya.” Ucap Hye Won datar.
Hyeong Min mengangguk, “aku tahu. Kalau kau setuju, tentu kau tidak akan lari seperti ini.”
Hye Won tersenyum singkat. Sahabatnya itu memang cerdas. “Oh ya, kau ingat tentang orang yang sering aku ceritakan padamu? Dialah penyebabku menolak Yong Shin.”
“Siapa dia?”
Hye Won menarik nafas panjang. Mungkin kini saatnya ia mengatakan apa yang selama ini ia pendam. Ya, ini saat yang tepat. “Dia adalah dirimu, Lee Hyeong Min.”
“Kenapa kau menyukaiku?” tanya Hyeong Min. Sebenarnya, dalam lubuk hatinya. Hyeong Min tersenyum bahagia. Setidaknya perasaan ini tidak ia simpan sendirian.
Hye Won berbalik menatap Hyeong Min, begitu pula dengan pria itu. “Entahlah. Bukanlah tidak ada alasan pasti untuk kita menyukai seseorang?” ucap Hye Won pelan. Semburat merah terpancar di wajahnya. “Antar aku pulang. Disini sangat dingin.” Lanjutnya.
Hyeong Min tersenyum geli melihat tingkat laku Hye Won yang sedang menahan malu. Kini, ia juga harus mengungkapkan apa yang ia rasakan. “Tunggu aku Kang Hye Won-ssi. Kau tidak mau ayahmu marah, kan?”
Hye Won terus berjalan cepat dengan sepatu kaca yang masih melekat di kakinya. Ia lega, sungguh. Hari ini, tak seburuk yang ia kira.

Aku bersyukur. Kalau saja aku tidak berlari meninggalkan altar tadi siang, mungkin untuk selamanya aku masih akan bungkam tentang perasaanku yang sebenarnya. 

Sabtu, 30 Juni 2012

Super Junior 6th Album :: Sexy, Free & Single

Ini dia album ke-6 yang ditunggu" para ELF :D


Sekedar info aja, kalo mau beli album asilnya harganya sekitar 260.000 rupiah..


Ini dia trailler 6th Jib "Sexy, Free & Single"


Kalo ini Review Track list plus Download MP3 "Sexy, Free & Single"
1. Sexy, Free and Single
Lagu ini genrenya Soulful House + Easy and Addictive chorus..
Hmm, ini lagu nyeritain tentang kisah sukses dari para cowok yang sexy, free dan pastinya single :D
Download :: Sexy, Free and Single


2. From U  (너로부터)
Temponya medium, dan genrenya R&B
Lagu ini merupakan lagu special.. Karena lagu ini merupakan wujud dedikasi Super Junior dan dibuat khusus buat para Everlasting Last Friend (ELF)
Download :: From U


3. Gulliver (걸리버)
Gulliver ini ciptaannya Eunhyuk
Menampilkan skills rap-nya si Leeteuk, Shindong, Eunhyuk sama Donghae + Charming voicenya si Ryeowook
Download :: Gulliver


4. Someday (언젠가는)
Someday ini lagu remake dengan suara yang lebih matang dari Super Junior ditambah sebuah pengaturan klasik
Download :: Someday


5. Now
Lagu yang sound sama melodynya fresh
Now ini nyeritain tentang melarikan diri dari kehidupan sehari hari untuk pergi ke pantai saat fresh Summer
Download :: Now


6. Rockstar
Gabungan dari genre Electronic dan Hip Hop
Tentang kepercayaan dan kharisma seorang rocker, kesenangan di atas panggung..
Lagu ini mengekspresikan karakter hidup dari Super Junior
Download :: Rockstar


7. Bittersweet (달콤씁쓸)
Dengan suara mellow dan melodi yang indah milik Yesung, Sungmin, Ryeowook dan Kyuhyun
Menceritakan tentang perasaan yang kesepian
Download :: Bittersweet


8. Butterfly (빠삐용)
Lagu elektro dance..
Berisi tentang pesan yang menghibur untuk teman yang mulai lelah menjalani kehidupan
Download :: Butterfly


9. Daydream (머문다)
Daydream ini lagu ballad yang penuh dengan emosi yang ditekankan oleh harmoni indah milik Super Junior
Download :: Daydream


10. A 'Good' Bye (헤어지는 날)
Sebuah lagu yang digunakan untuk eksperimen gabungan beberapa komposisi lagu.
Download :: A 'Good' Bye

That's All Guys :)